Empati dan Simpati dalam praktik farmasi

(Oleh : Arif Budianto, S.Si., Apt.)

Apa yang Anda lakukan sebagai Apoteker saat ada pasien berkonsultasi kepada Anda? 3 prime questions menjadi acuan utama. Ini benar. Lalu bagaimana Anda yakin pasien akan menuruti semua yang Anda perintahkan & meningkatkan level kepatuhan minum obat pasien?

Saat kita berinteraksi dengan pasien yang sedang sakit, banyak hambatan komunikasi yang terjadi. contohnya, pasien tidak berkonsentrasi pada proses konseling obat karena sedang menahan sakit atau sekedar ingin segera pergi istirahat atau ke kamar mandi untuk BAB (pada pasien diare,misalnya). Atau pasien sudah cape antri menunggu periksa dokter, kini harus antri di konseling Apoteker. Atau pasien penyait kronis yang sudah seringkali mendengarkan konseling obat bahkan lebih hafal daripada Apotekernya. MasyaAllah..

Kondisi ini menghambat kerja Apoteker untuk menjamin semua informasi obat sampai ke pasien dengan utuh. Apalagi kalau yang datang bukan pasien sendiri, tapi orang suruhan. Ini problem sepele, tapi signifikan dampaknya pada keberhasilan terapi. Apa yang harus kita lakukan menghadapi hambatan-hambatan diatas?

Break the whirlwind

Rutinitas bagaikan angin puting beliung (whirlwind) yang menghambat kreatifitas kita. Pada penanganan konseling, kadang kita terjebak dalam rutinitas, sekedar PIO, karena lelah dan sudah menjadi rutinitas, aktifitas mulia seperti konseling kadang menjadi kurang bermakna. Ini berbahaya, sobat. Tulisan ini ingin memberikan sedikit saran agar sisi interaksi humanisme antara Apoteker dan pasien dapat ditingkatkan.

Simpati adalah memberikan perhatian atas kesusahan yang dialami oleh pasien. Empati adalah merasakan apa saja kesusahan dan kesulitan yang dirasakan oleh pasien. Nah, selama kita menghadapi pasien, mana lebih ditonjolkan? Sikap empati atau simpati?

Ssstttt…pada kenyataannya pasien tahu lho kita sedang ber-empati (ikut bersedih) atau sekedar simpati (merasa kasihan)

Sikap empati tentu lebih disukai dibandingkan sikap simpati. Dengan sikap empati, interaksi secara humanis dapat dilakukan dan pasien akan lebih berbahagia. Kabar baiknya, sikap bahagia dari pasien akan menular kepada Anda. Mau?

Building Emphaty

Sebuah bisnis dijalankan untuk mendapatkan 2 hal utama, create profit dan create happiness. Dalam bisnis jasa layanan kefarmasian, Apoteker telah mendapatkan profit atas kompensasi dari pekerjaannya. Sayangnya, semakin tinggi gaji Apoteker, sisi kebahagian Apoteker tidak selalu berbanding lurus dengan gajinya. Lalu darimana create happiness didapatkan? Membangun sikap empati adalah jawabannya. Sikap empati akan menumbuhkan kebahagian pasien dan Apoteker akan ikut berbahagia karenanya, ini sudah sunnatullah. Setuju?

Lalu bagaimana membangun sikap empati?

Sikap empati dibangun melalui sentuh-kata.

Saya terbiasa menyentuh lengan atau jari pasien saya (catatan : bukan lawan jenis). Saya tatap matanya dan berusaha merasakan apa yang pasien rasakan. Saya lebih banyak mendengarkan dan diam (selain memang cape kalau ngomong seharian..hehehehe).

3 menit, biasanya pasien akan senyum atau menunggu jawaban atau feedback kita.

Lalu saya jawab, “terimakasih Pak/Bu, telah bercerita kepada kami, sabar ya, Pak/Bu. Saya ikut mendo’akan kesembuhan dari Allah ta’ala bagi bapak/Ibu.”

Singkat saja (hehehe…pasien yang antri banyak soalnya).

Pasien biasanya tersenyum dan mengucapkan beberapa kata. Kadang ada yang menangis lalu tersenyum. Indah sekali, sobat… Mau coba?

Sikap empati dibangun dengan batu-bata.

  • Ruang tunggu yang nyaman
  • Meja konsultasi yang nyaman
  • Lantai tidak boleh terlalu licin, kalau ada yang terpeleset.
  • Kipas angin secukupnya, dan sebagainya (terkait dengan patient safety)

 

7 Positive Side Effect

Ketika kita berhasil menerapkan sikap empati dalam melakukan pekerjaan kefarmasian, ada beberapa nilai positif yang akan kita dapatkan, insyaAllah.

  1. Pasien akan lebih patuh kepada Anda. Karena ada hubungan emosional.
  2. Pasien akan lebih taat minum obat atau patuh pada terapi non-obat, karena pasien yakin bahwa Anda ingin yang terbaik bagi pasien.
  3. Rejeki menjadi berkah, uang gaji lebih manfaat dan tahan lama.
  4. Hidup lebih ringan, banyak mendapatkan do’a dari malaikat. Kenapa begitu? Kalau kita mendo’akan 1 pasien kita. insyaAllah ada ribuan malaikat yang akan mendo’akan kita. insyaAllah.
  5. Lebih bahagia.
  6. Lebih bisa mensyukuri nikmat kesehatan yang Allah ta’ala berikan kepada kita.
  7. Profesi Apoteker lebih dirasakan manfaat dan keberadaannya.

 

Semoga tulisan ini bermanfaat,

Kritik dan saran, dapat dikirim ke Arif Budianto (081329625655)