Kenali – Ridhai – Waspadai Penyakit Maag

(Oleh : Arif Budianto, S.Si., Apt.)

3 Studi Kasus

Berikut saya akan jelaskan beberapa aspek farmakoterapi, melalui cerita 3 kasus yang saya dapati terjadi di Apotek saya. Dengan adanya kasus ini, saya berharap ada pelajaran yang bisa kita ambil dan kita semakin peduli dengan penyakit yang..kata orang..sepele ini.

Kasus pertama

Seorang Bapak datang ke Apotek Nh Beji, saya sedang praktik disana. Beliau mengatakan kalau pusingnya sudah 2 hari tidak kunjung membaik, ada rasa mual, dada-nya terasa panas dan jantung berdebar-debar. Selama pusing, dia minum obat flu warna kuning yang ada di warung dekat rumahnya.

Saya tanyakan pada beliau, apakah lidahnya terasa pahit & sering terlambat makan?

Beliau bilang, lidahnya pahit, tapi dia memang sudah biasa telat makan dan tidak masalah.

Saya katakan, saya menduga Bapak sakit maag. Kemudian bapak itu menyangkal bahwa itu bukan sakit maag, beliau juga mengatakan kalau sebelumnya sudah minum obat sakit maag dan ternyata “ajeg bae”.

Saya tanya, obat apa saja yang sudah diminum & bagaimana cara meminumnya?

Beliau minum obat maag, ditelan saja. Kalau obat pusing flu, setelah diminum malah ga bisa tidur. Dia bilang pusing, biasanya minum kopi sembuh, tapi ini kok tambah sakit.

Nah, sampai disini, ada beberapa kejanggalan kan?

Lalu saya ambil kertas, saya tulis di kertas tersebut  5 kata di sebelah atas : pusing, mual, lidah pahit, dada panas & jantung berdebar.

Saya tulis juga 3 kata di sebelah atas : obat maag, obat flu & kopi.

Lalu bapak tersebut saya tensi & saya jelaskan singkat begini..

Pak, dari gejala2 yang ada di atas ini…saya meyakini bahwa bapak sakit maag, memang betul sudah minum obat maag, tapi bapak keliru cara minum obat maag-nya…seharusnya obat maag itu dikunyah, bukan ditelan., dan karena ditelan, obat maagnya menjadi tidak berefek maksimal, dan bapak tetap sakit. Lebih lagi ditambah kopi, jumlah asam lambung semakin banyak & perut bapak tidak nyaman.

Kedua, obat flu yang bapak minum mengandung zat yang berisiko bagi penderita jantung atau tekanan darah tinggi. Itu yang menyebabkan Bapak susah istirahat dan jantung berdebar-debar.

Bapaknya manggut-manggut, lalu saya beri catatan dan obat yang baru. Hasil tensinya tinggi dan saya berpesan agar lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi obat-obatan.

Begitulah, banyak faktor yang menyebabkan kegagalan terapi. Bisa karena salah mengenali gejala penyakit sehingga salah diagnosa, salah konsumsi obat & keliru dalam asupan makanan atau minuman.

Dari cerita di atas, penting kiranya bagi kita mengenali diri kita.

Harus mengenal kondisi diri kita, lebih perhatian dan lebih peduli terhadap diri. Kenali penyakit dengan baik dan selalu berkonsultasi dengan dokter, apoteker atau tenaga kesehatan yang lain.

Kasus kedua

Pasien seorang Ibu datang ke Apotek Nh Beji membawa madu hutan yang baru tadi pagi dibelinya. Beliau ingin berkonsultasi. Ibu yakin kalau beliau sakit maag dan sudah minum madu, lalu tambah sakit. Karena itu, Ibu minum madu terus..tapi tetap saja tambah sakit. Lalu ketiga kalinya, dihajar minum madu teruus..dan teruss menerus tambah sakit.

Saya mendengarkan ibu ini dengan seksama. Ibu ini menagih janji saya. Kata saya minum madu manjur, kok ga ada perubahan dan terus tambah sakit.

Ya, saya memang sering mengisi pengajian Ibu-ibu dan Bapak-bapak. Baik di masjid atau di rumah penduduk saat saya melakukan kunjungan ke acara pertemuan warga.

Saya pernah bercerita tentang sahabat yang mengeluh sakit perut kepada rasulullah SAW. Kemudian rasulullah SAW menganjurkan minum madu. Tetapi setelah minum madu, justru sahabat ini merasakan perutnya bertambah sakit dan mengadu kembali kepada rasulullah SAW, sehingga rasulullah SAW menyuruhnya minum madu kedua kalinya. Setelah minum madu yang kedua kalinya, sahabat merasakan perutnya tambah sakit dan mengadu kembali kepada rasulullah SAW. Untuk ketiga kalinya, rasulullah Saw menyuruh sahabat ini minum madu kembali dan beliau berkata bahwa Allah menjamin ada obat kesembuhan dalam madu sesuai alQur’an. Dan AlQur’an tidak akan keliru, melainkan perut sahabatlah yang keliru.

Nah, dalam pengobatan ala Nabi atau at-Thibbun Nabawi, kisah tersebut dijadikan rujukan sebagai pertanda kesembuhan atau Direct of cure. Hal ini memang saya jelaskan kepada masyarakat.

Si Ibu ini, alkisah tidak terima karena setelah minum madu yang ketiga kalinya, masih sakit juga & ingin meminta pertanggung jawaban saya, karena atas saran saya, perutnya justru bertambah sakit.

Alhamdulillah, kini saya paham di mana duduk persoalannya.

Maka segera saya sampaikan permohonan maaf saya kepada Ibu ini. Saya mohon maaf dan tidak ada niat atau maksud sedikit pun untuk membohongi Ibu.

Kedua, saya jelaskan bahwa dalam kisah rasulullah SAW bersama sahabatnya di atas, yang digaris bawahi bahwa yang menyembuhkan adalah Allah, bukan madunya. Madu sebagai wasilah atau sarana kesembuhan dengan 2 syarat utama.

Yakin dan ridha.

Yakin kepada Allah tentang kesembuhannya & ridha terhadap penyakit maagh-nya. Kedua hal ini yang memberikan energi positif bagi pasien sendiri. Kalau ridha, maka sembuhlah dia, dengan izin Allah “azza wa jalla”.

Saya jelaskan ke Ibu ini bahwa saat ibu minum madu, proses perbaikan insyaAllah sedang berjalan… namun karen ibu stress dan ingin menagih janji kepada saya, jadilah ibu stress…

Lho ini sudah 3 kali minum kok belum sembuh?!! Nah, si Ibu jadi emosi, stress..asam lambungnya naik lagi, sakit lagi…

Kami pun tertawa..

Si Ibu pulang dan berjanji untuk senantiasa ridha dan berpikir positif.

Kasus ketiga

Ada suami istri datang ke Apotek Nh Beji yang mengeluh sakit maagh.

Keduanya yakin kalau ini sakit maagh, karena sebelumnya sudah sering ke dokter dan selalu diberi obat sakit maag, keduanya membawa obat-obat yang pernah dikonsumsi.

Ada sisa obat antasida, omeprazole, metoclopramide, paracetamol.

Suami bekerja di sales marketing, memang makannya tidak teratur, sering pusing dan beberapa waktu yang lalu muntah-muntah dan pingsan di kantor.

Istri, kerja sebagai SPG di Supermarket dan sering lemes. Tidak nafsu makan dan sering pusing-pusing. Keduanya tidak suka kopi & tidak pernah sarapan, tapi selalu makan gorengan dan minum teh setiap pagi.

Setelah melihat obat dan mendengar apa yang mereka alami, pertanyaan saya pertama selalu apakah Mas dan Mbak sudah tahu cara minum obatnya & efek yang diharapkan setelah minum obat?

Mereka menjawab obatnya diminum sebelum makan semua, hanya paracetamol yang diminum sesudah makan. Omeprazole dulu 1 jam sebelum makan, untuk mengurangi asam lambung, lalu antasida 15 menit sebelum makan, dikunyah, untuk menetralisir asam lambung, lalu metoclopramide diminum sebelummakan untuk mengatasi muntah & paracetamol utk obat pusing.

Sudah paham ternyata, ini menandakan memang mereka berdua sudah sering minum obat ini.

Lalu saya tanya, apa yang bisa saya bantu?

Mereka minta obat yang paling praktis, cukup 1 kali minum untuk semuanya dan bagaimana caranya supaya tidak sering kambuh?

Bagi saya, ini pertanyaan jebakan. Pasutri ini belum tentu tidak tahu tentang penyakit dan obatnya. Mendengar penjelasan keduanya saat saya tanya soal cara minum obat barusan, saya yakin keduanya sudah paham betul bahwa tidak ada obat yang “babat alas” semuanya bisa. Atau mereka sedang mencari celah menawarkan produk baru bagi saya, bisa saja kan? Bukan sesuatu yang mustahil itu terjadi jika saya mengatakan tidak ada obat yang cukup 1 untuk semua.

 

Maka alih-alih saya jawab pertanyaannya, saya cukupkan dengan bersikap empati kepada keduanya. Saya katakan :

“Mas dan Mbak, obatnya sudah baik, Mas dan Mbak juga sudah minum obat dengan benar, jadi Mas dan Mbak insyaAlah akan segera sembuh dan tidak kambuh lagi. Saya dapat memahami, aktifitas padat dari Mas dan Mbak memang dapat memicu kambuh atau penyakit komplikasi. Ini yang perlu kita waspadai bersama. Karena sakit maag ini memang dapat dipangaruhi atau mempengaruhi aktifitas lain dan akhirnya Mas muntah, pusing sampai pingsan dan Mbak sering lemes di kantor.

Karena itu, saya menganjurkan 2 hal perbaikan.

Pertama,

Perbaikan pola makan, pola istirahat dan olahraga.

Kedua, saya hanya menambahkan vitamin dan enzym pencernaan saja, agar laju pengosongan lambung lebih cepat, makanan dapat terserap sempurna & risiko iritasi atau tukak lambung bisa dikurangi.

Ada beberapa penyakit yang sering menyertai sakit maag, yaitu demam, anemia, gangguan haid, pusing atau vertigo, GERD Gastroesophageal refluks disease, diare, dan sebagainya. Dan inilah yang wajib kita waspadai dan saran saya untuk pergi ke dokter dan mendiskusikannya.”

Demikianlah cara saya menjelaskan kepada pasien & membujuknya untuk pergi ke dokter.

Sense of urgency

Pak Arif, beberapa sahabat menganggap maag hal yang biasa dan tidak perlu ke dokter. Benar begitu?

Begitulah kira-kira pertanyaan dari pasien yang datang ketika saya berpraktik di Apotek Nh Beji. Memang sebagian pasien mengatakan bahwa sakit maag adalah hal sepele.. namun sebelumnya perlu saya tegaskan, bahwa sakit apapun sebaiknya dikonsultasikan ke dokter atau…

kalau pasien merasa cukup confident/percaya diri dengan sakit maagh-nya, pasien dapat melakukan swamedikasi atau pengobatan mandiri dibantu oleh Apoteker yang praktik di Apotek terdekat. insyaAllah, apoteker akan dengan senang hati membantu.

Dalam swamedikasi pasien sakit maagh dapat meminta dibuatkan catatan oleh Apoteker, tentang obat-obat yang digunakan, beserta cara pakai dan terapi non-farmakologinya..maksud saya terapi non-obat, seperti makanan yang perlu dihindari termasuk pola istirahat dan tips mengatasi stress yang dapat memperparah sakit maagh.

Kategori& Gejala Sakit Maag

Maagh dapat dikategorikan dalam 2 kasus umum,

Pertama, maag akut. Sakit maag yang muncul secara tiba-tiba, bisa disebabkan karena terlambat makan, stress, gangguan pencernaan, makan-makanan yang memicu asam lambung.

Kedua, maagh kronis. Sakit maagh yang sudah terjadi lebih dari 1 tahun atau sakit maagh yang kambuhan. Bagi pasien yang mengalami beberapa kali sakit maagh dan periksa ke dokter, dokter akan menjelaskan poin-poin penting dalam rencana terapi sakit maag berdasarkan riwayat pengobatan.

Gejala sakit maagh diantaranya mual, kadang disertai muntah, pusing sakit kepala, mulut/lidah terasa pahit, nyeri di ulu hati, beberapa disertai dengan demam – nggreges, nafas bau dan nafsu makan berkurang.

misalnya, kondisi sebenarnya pasien lapar, tapi nafsu makan berkurang atau hilang sehingga pasien merasa sakit nyeri di sekitar perut sampai ulu hati, nyeri itu akibat kenaikan jumlah asam lambung.

Gelaja ini bisa muncul bersamaan atau satu per satu, tergantung riwayat sakit maagh pasien dan daya tahan tubuh pasien.

3 Tips Mudah atasi Maag

Dari cerita pertama,
Kita wajib mengenali penyakit kita, cara minum obatnya dan harus kita dokumentasikan atau dicatat utnuk kemudian dikonsultasikan bila terjadi kambuh.

Dari cerita kedua,
Kita wajib ridha atas penyakit kita dan mengurangi beban pikiran atau stress.

Dari cerita ketiga,
Kita perlu waspada kepada kasus komplikasi yang menyertai sakit maag kita.

Kenali – Ridha – Waspada , inilah 3 langkah mudah dalam penanganan sakit maag.

 

Semoga tulisan ini bermanfaat,

Kritik dan saran, dapat dikirim ke Arif Budianto (081329625655)